Situasi ini, jika tidak ditangani dengan serius, berpotensi mengancam permukiman dan lahan produktif di sepanjang wilayah pantai.
“Banyak yang mungkin tidak begitu peduli, bahwa Oktober kemarin ini adalah bulan diperingatinya Hari Habitat Dunia dan Hari Kota Dunia,” ujar Faruq.
Lanjutnya, Peringatan dua hari tersebut, merefleksikan kelayakan kota sebagai tempat tinggal kita. Terutama di tengah ancaman krisis iklim yang semakin kita rasakan, seperti meningkatkanya suhu di kota-kota kita.
Di tengah pesatnya pertumbuhan kota dan meningkatnya perhatian terhadap isu-isu lingkungan, Faruq menawarkan konsep Kota Hijau untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang mempertahankan kualitas hidup serta keberlangsungan lingkungan.
“Kota Tegal punya potensi luar biasa untuk menjadi kota hijau yang berkelanjutan. Kita memiliki laut, aliran sungai, dan ruang perkotaan yang bisa dikembangkan secara ramah lingkungan,” ujar Faruq. “Sebagai arsitek, saya melihat pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Setiap proyek pembangunan di Tegal harus membawa manfaat jangka panjang, baik secara ekonomi maupun ekologis,” tuturnya.


