lenterakalimantan.com, AMUNTAI – Makam Pahlawan Datu H Abdullah yang terletak di Desa Jumba RT 4, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, berada dalam kondisi kurang terawat dan sepi dari peziarah.
Datu H Abdullah gugur dalam Perang Banjar pada 15 September 1860 Masehi atau bertepatan dengan 27 Safar 1277 Hijriah, dikenal sebagai sosok ulama yang dihormati sekaligus ditakuti oleh penjajah kolonial Belanda pada masanya.
Makam yang seharusnya menjadi tempat penghormatan bagi seorang pahlawan ini kini tampak kurang mendapat perhatian. Dari pengamatan lenterakalimantan.com, kondisi fisik makam mengalami kerusakan di beberapa bagian, seperti batu nisan yang mulai usang dan area sekitar makam yang ditumbuhi rerumputan kecil.
Minimnya perawatan ini membuat makam pahlawan Datu H Abdullah seakan terlupakan, meskipun peran dan jasanya bagi perjuangan melawan penjajah sangat besar.
Berdasarkan keterangan warga setempat, dulunya makam ini sering dikunjungi oleh peziarah, terutama pada bulan-bulan tertentu atau saat peringatan sejarah Perang Banjar.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kunjungan peziarah semakin berkurang, diduga akibat kurangnya informasi dan minimnya promosi sejarah lokal kepada generasi muda.
“Perlu adanya campur tangan dari pemerintah daerah, agar makan bisa terpelihara secara maksimal, selain kurang terawat juga sepi dari peziarah. Mungkin minimnya informasi menyebabkan makam Datu H Abdullah terabaikan. Dulunya makam ini sering dikunjungi oleh keturunan beliau, yakni mantan Wakil Gubernur Kalsel, Rudi Resnawan,” ungkap Bayu Rabu (13/11/2024).
Datu H Abdullah merupakan figur penting dalam perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajah. Kehadirannya dalam Perang Banjar memberikan semangat juang yang kuat bagi masyarakat Amuntai dan sekitarnya.
Kini, dengan kondisi makam yang memprihatinkan, diharapkan pemerintah dan masyarakat setempat dapat melakukan perawatan dan revitalisasi agar nilai sejarahnya tetap lestari.
Inisiatif untuk merawat makam Datu H Abdullah bukan hanya sebagai bentuk penghormatan bagi pahlawan, tetapi juga untuk mengedukasi generasi muda akan pentingnya mengenang sejarah perjuangan bangsa.
Masyarakat berharap agar makam pahlawan ini bisa kembali menjadi tempat ziarah yang layak dan terhormat, serta dilengkapi dengan fasilitas yang memadai untuk mendukung kunjungan wisata sejarah di HSU.
Sejarah Singkat Pertempuran Heroik Datu Haji Abdullah di Sungai Malang
Pada Februari 1860, perjuangan heroik rakyat Banjar untuk melawan penjajahan Belanda memasuki babak baru. Di bawah komando Datu H Abdullah, seorang ulama yang juga pemimpin pemberani, rakyat Banjar melancarkan serangan penuh keberanian di Sungai Malang untuk mempertahankan tanah air dari kekuasaan kolonial.
Datu H Abdullah memimpin barisan Sabil yang terus mengganggu patroli Belanda di sekitar Sungai Banar dan Jarang Kuantan. Dengan semangat jihad fisabilillah, ia mengobarkan api perlawanan melawan penjajah. Meskipun terluka di paha dalam serangan terhadap pasukan Belanda, Datu H Abdullah terus bertekad melawan.
Namun, pada 15 September 1860, Asisten Residen Van Oijen, seorang pejabat Belanda yang licik, mengirim 60 pasukan bersenjata lengkap untuk menangkap Datu H Abdullah, yang dipimpin oleh Letnan Van Emde.
Pasukan ini mengepung rumah Haji Abdullah di Sungai Malang. Meski begitu, anak-anak Haji Abdullah, Haji Yusip dan Singat, beserta 19 pengikut setianya bersiap menghadapi pasukan Belanda.
Saat pengepungan terjadi, Datu H. Abdullah memimpin perlawanan dengan seruan “Fi Sabilillah, Subhanallah Allahu Akbar,” dan pertarungan sengit pun pecah. Van Emde, yang terkenal tangguh, akhirnya tewas setelah menerima tujuh luka parah dari para pejuang.
Namun, karena jumlah Belanda lebih banyak serta bersenjata lengkap, sebagian besar pengikut dari Datu H. Abdullah gugur sebagai syuhada. Tidak hanya laki-laki, namun ada empat wanita Banjar, yakni Aisyah, Hadijah, Kalimah, dan Bulan, yang juga menunjukkan keberanian luar biasa.
Dengan bersenjatakan keris dan parang, mereka menyerbu tentara penjajah, mempertahankan martabat dan tanah mereka hingga titik darah terakhir.
Kini pertempuran di Sungai Malang ini, meninggalkan luka mendalam, namun semangat perjuangan rakyat Banjar tetap berkobar. Datu H. Abdullah dan pengikutnya yang gugur dimakamkan di Desa Jumba, Kecamatan Amuntai Selatan, sebagai pahlawan sejati. Hingga kini, kisah mereka menjadi simbol keberanian rakyat Banjar dalam melawan penjajahan dan membela tanah air tercinta. (Dikutip dari berbagai sumber).


