Program ini diharapkan mampu menciptakan sinergi antara pelestarian lingkungan, peningkatan ketahanan pangan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam sambutannya, Wamenhut Sulaiman Umar Siddiq menekankan pentingnya integrasi antara rehabilitasi hutan dan penguatan swasembada pangan nasional.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bapak Menteri, karena kami melihat ketahanan pangan di Indonesia saat ini sedang menurun. Maka dari itu, kami ingin mengajak masyarakat yang berada di kawasan hutan agar turut berkontribusi dalam swasembada pangan nasional,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa kawasan hutan bisa menjadi sumber pangan, energi, dan ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan.
Menurutnya, pihaknya ingin masyarakat tidak hanya menjaga hutan, tetapi juga mendapatkan manfaat nyata dari hutan. Misalnya dengan menanam komoditi seperti jengkol, cabai, alpukat, dan lainnya yang bisa dijual bahkan diekspor.
BACA JUGA : Enam Capaska Dilepas Bupati Tala Menuju Seleksi Paskibraka Tingkat Provinsi Kalsel
Wamenhut Sulaiman Umar juga mencontohkan keberhasilan ekspor jengkol ke Jepang oleh warga Indonesia, sebagai bukti adanya peluang pasar luar negeri bagi hasil hutan bukan kayu.
“Pelestarian hutan bukan hanya slogan, melainkan bagian dari solusi nyata atas krisis pangan dan energi. Pembangunan boleh terus berjalan, tetapi kelestarian hutan harus tetap dijaga. Masyarakat juga harus ikut sejahtera bersama alam,”pungkasnya.
Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan sinergi nyata antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang produktif, lestari, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.
Editor : CAN


