lenterakalimantan.com, PELAIHARI – Pemerintah Kabupaten Tanah Laut menggelar Festival Olahraga Tradisional Tingkat Kabupaten Tanah Laut Tahun 2026 sebagai upaya melestarikan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesehatan dan sportivitas masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Halaman Stadion Pertasi Kencana, Pelaihari, Rabu (7/10/2026), tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Tanah Laut, Muhammad Zazuli, dan diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Tanah Laut.
Festival ini menjadi bagian dari pembinaan olahraga rekreasi sekaligus upaya mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Kepala Dispora Tanah Laut, Rudi Imtihansyah, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran, tetapi juga mendorong prestasi, kecerdasan, sportivitas, serta mempererat persatuan dan kesatuan.
“Yang pertama untuk meningkatkan kesehatan, perkembangan fisik, prestasi, kecerdasan, dan sportivitas. Yang kedua adalah mempererat persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Rudi.
Menurutnya, festival olahraga tradisional juga menjadi bagian dari target jangka panjang pemerintah daerah untuk membudayakan olahraga di tengah masyarakat.
“Dan yang lebih penting adalah upaya kita untuk mewujudkan masyarakat Tanah Laut yang aktif, masyarakat Tanah Laut yang gemar berolahraga. Mudah-mudahan di tahun 2045 perwujudan itu dapat kita capai untuk mewujudkan masyarakat Tanah Laut berolahraga sebanyak 70 persen di tahun 2045,” ujarnya.
Dari Egrang hingga Bakiak
Pada hari pertama, sejumlah cabang olahraga tradisional dipertandingkan, di antaranya egrang, bahadang, sumpit, tarik tambang, dagongan, bakiak, dan lari balok.
Sementara itu, pertandingan balogo dijadwalkan berlangsung di lapangan basket indoor pada 9–10 Oktober 2026. Sedangkan cabang silat budaya atau kuntau akan digelar pada 11 Oktober 2026.
Antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama. Sebanyak 18 tim mengikuti tarik tambang, 33 tim bakiak yang terdiri dari 19 tim putra dan 14 tim putri, serta 35 tim egrang dengan 20 tim putra dan 15 tim putri.
Selain itu, terdapat 16 tim dagongan, 40 tim balogo, tujuh tim bahadang, 25 peserta lari balok, enam peserta sumpit, serta 64 tim dan peserta perorangan pada cabang silat budaya.
Panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp96 juta untuk para pemenang kategori perorangan maupun beregu.
Rudi juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Bupati Tanah Laut Muhammad Zazuli yang turut memberikan dukungan terhadap pembinaan olahraga tradisional di daerah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wakil Bupati yang juga beliau selaku pembina olahraga tradisional. Beliau sebagai Ketua PORTINA yang sudah banyak memberikan masukan dan bimbingan untuk pembinaan serta pengembangan olahraga tradisional di Kabupaten Tanah Laut,” tambahnya.
Upaya Melestarikan Warisan Budaya
Sementara itu, Wakil Bupati Tanah Laut, Muhammad Zazuli, menekankan bahwa olahraga tradisional bukan sekadar permainan, tetapi merupakan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai-nilai kebersamaan.
“Olahraga tradisional adalah warisan budaya luhur yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal, kebersamaan, kejujuran, gotong royong dan sportivitas,” ujar Zazuli.
Ia juga berpesan kepada seluruh peserta agar menjunjung tinggi sportivitas dan menjaga persaudaraan selama pertandingan berlangsung.
“Menang dan kalah hal biasa. Sportivitas dijaga dan rasa persaudaraan yang utama,” pesannya.
Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, festival ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya daerah, menjaga kebugaran masyarakat, serta melahirkan atlet-atlet olahraga tradisional Tanah Laut yang berprestasi.
Para pemenang nantinya diproyeksikan untuk mewakili Kabupaten Tanah Laut pada kompetisi tingkat Provinsi Kalimantan Selatan hingga tingkat nasional yang direncanakan berlangsung di Nusa Tenggara Barat pada 2028.
Editor: Rizki


