lenterakalimantan.com, BANJARMASIN – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Kalimantan Selatan dan Tengah (Kanwil DJP Kalselteng) bersama Kementerian Keuangan Satu Kalimantan Selatan kembali melakukan publikasi kinerja Anggaran, Pendapatan, dan Belanja Negara (APBN) pada kegiatan Assets Liabilities Committee (ALCo) yang dilaksanakan di Aula Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Kalsel, Jum’at (21/3/2025).
Publikasi ALCo ini diselenggarakan setiap bulan dan bertujuan untuk memublikasikan kinerja fiskal dan ekonomi pembangunan di Kalsel.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Pimpinan UE I Kemenkeu Satu Kalsel, local expert Kalimantan Selatan, serta media di wilayah Kota Banjarmasin.
Baca Juga: Kanwil DJP Kalselteng Lampaui Target Penerimaan Pajak 4 Tahun Berturut-turut!
Perekonomian Regional Kalsel: Ekonomi Kalimantan Terjaga, Didukung oleh Kenaikan Volume Ekspor Komoditas Andalan
Sampai dengan bulan Februari 2025, kondisi perekonomian Kalsel melanjutkan tren positif meskipun menghadapi berbagai tantangan global dan domestik. Pertumbuhan ekonomi Kalsel didorong oleh sektor pertambangan dengan kontribusi 29,47%.
Berdasarkan pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi PDRB Kalsel sebesar 46,32%. Pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang tetap terjaga.
Secara umum, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan keadaan perekonomian Kalimantan Selatan tetap terjaga, antara lain:
- Tingkat inflasi Februari 2025 terkendali dan tercatat mengalami inflasi sebesar 0,25% (yoy) lebih tinggi dari Nasional yang mencapai 0,09%. Dari lima daerah di Kalsel yang menjadi sampel pengukuran, tingkat inflasi tertinggi pada Kabupaten Tabalong sebesar 1,41% (yoy), sedangkan yang terendah pada Kabupaten Kotabaru mengalami deflasi sebesar -1,46% (yoy). Penyumbang inflasi di Kalimantan Selatan antara lain emas perhiasan, tarif parkir, minyak goreng, cabai rawit, dan sigaret kretek mesin.
- Pada Februari 2025, neraca perdagangan di Kalimantan Selatan masih melanjutkan tren positif dengan surplus sebesar US$942,94 juta. Kondisi ini meningkat 6,25% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan neraca perdagangan pada Februari 2025 disebabkan oleh meningkatnya volume ekspor minyak kelapa sawit dan batubara.


