Berkat Dedikasi Memperjuangkan Seni Budaya Banjar
lenterakalimantan.com, JAKARTA – Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) H Sahbirin Noor, kembali mengukir prestasi di skala nasional. Penghargaan terbaru itu datang dari insan perfilman Indonesia.
Penghargaan diterima Paman Birin sapaan karib H Sahbirin Noor Bertempat di Gedung Perfilman Usmar Ismail Jakarta, Senin (26/12/2022) malam, Paman Birin dinobatkan sebagai salah satu tokoh penerima Anugerah Usmar Ismail Awards 2022 berkat jasa paman Birin dalam memajukan Seni budaya daerah.
Di hari yang sama Gubernur Kalsel Sahbirin Noor juga menerima Piagam Penghargaan dan Medali Kejuangan 9 Windu Kemerdekaan Republik Indonesia dari Dewan Harian Nasional (DHN) 45.
Usmar Ismail Awards adalah sebuah ajang penghargaan bagi insan perfilman atau para tokoh yang dinilai berjasa dalam memajukan karya karya seni dan budaya di bidang perfilman nasional.
Paman Birin dianggap sangat layak menerima penghargaan tersebut Sebab menginisiasi bagi lahirnya karya- karya film bersejarah sebagai edukasi bagi generasi muda dinilai menjadi latar utama dewan juri menetapkannya sebagai penerima Anugerah Usmar Ismail Awards 2022.
Beberapa film bersejarah yang diinisiasi Paman Birin antara lain Film Perjuangan Pangeran Antasari dan Film Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Matahari dari Bumi Banjar
Film Syekh Muhammad Al Banjari
Sebuah film tentang perjuangan pencapaian dan pengabdian ulama besar dari Bumi Banjar.
Usai menerima penghargaan Sahbirin Noor mengucapkan terima kasih atas apresiasi tersebut. “Alhamdulillah terima kasih untuk Yayasan Usmar Ismail, Badan Perfilman Indonesia dan seluruh pihak yang telah menganugerahkan penghargaan ini kepada saya,” ucap Paman Birin dikutip dari jejakbanua.com.
Menurut dia Penghargaan ini, dipersembahkan untuk seluruh masyarakat Kalsel, terutama para generasi muda dan para penggiat seni.
Ke depan disebut Paman Birin berkeinginan agar Kalsel memiliki film historis bernilai perjuangan masyarakat Banjar adalah cita cita sejak di Bangku SMA.
“Bahkan saat saya bergabung di sanggar seni dan budaya bersama teman teman saya sering menawarkan proposal usulan agar banyak pihak membantu produksi film loka,” ucapnya.
Sekarang sambung dia Alhamdulillah hari ini bisa diwujudkan berkat kolaborasi dan kerja keras bersama. Terima kasih kepada pihak yang banyak membantu hingga sejumlah film lokal di Kalsel bisa diproduksi.
Didampingi Staf Khusus Gubernur Kalsel H Achmad Maulana, Paman Birin juga menyempatkan waktu turut menyaksikan Film Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Paman Birin memohon doa masyarakat agar usulan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari sebagai Pahlawan Nasional dikabulkan pemerintah.
Sementara Ketua Badan Perfilman Indonesia (BFI) Gunawan Paggaru mengungkapkan sikap hormat dan apresiasi atas prakarsa dan komitmen kuat Paman Birin dalam mendukung rampungnya sejumlah film-film lokal bersejarah.
Dia bilang majunya industri perfilman nasional tidak.lepas dari lahirnya karya film di tingkat daerah. Ini sudah dilakukan Kalimantan Selatan melalui lahirnya karya film film lokal historis.
Usmar Ismail Award diambil sebuah nama pelopor per filamen Nasional dan Internasional yang membuat industri perfilman di Indonesia menjadi maju.
Dimana Usmar Ismail sendiri merupakan putra Sumatera Barat lahir di Bukittinggi 20 Maret 1921 silam.
Kemudian di tahun 1950, mendirikan perusahaan film pribumi bernama N.V. Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) yang kemudian membuat film “Darah dan Doa” (“The Long March of Siliwangi”).
Film ini dianggap sebagai film Indonesia pertama dan kemudian hari pertama pengambilan gambarnya ditetapkan sebagai Hari Film Indonesia.
Tahun 1962, Usmar Ismail aktif mendirikan organisasi Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) di bawah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah kegiatan kebudayaan, pendidikan, dan penanaman nilai-nilai nasionalisme kepada masyarakat.
Film-film buatan Umar Ismail mengajak dan menawarkan nilai-nilai nasionalisme seperti “Darah dan Doa” (1950), “Enam Jam di Jogja” (1961), “Kafedo” (1953), “Lewat Djam Malam” (1954), “Pedjuang” (1960), dan lainnya.
Selain itu, film “Tamu Agung” (1956) mendapatkan penghargaan film komedi terbaik di Festival Film Asia Pasifik di Hongkong tahun 1956.
Usmar wafat pada tanggal 2 Januari 1971 dan dimakamkan di Pekuburan Karet, Jakarta.
Sementara itu, pemberian gelar diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Gelar diberikan kepada sosok yang telah meninggal dunia dan dalam semasa hidupnya memberi sumbangsih besar bagi harkat dan martabat bangsa.


